This entry was posted on Monday, May 26th, 2008 at 8:46 pm and is filed under Serba-serbi. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can leave a response, or trackback from your own site.



Tilang Saja Saya Pak Polisi!
Minggu, 11 May 2008, pagi itu saya memang berencana untuk ke RIMO, pusat perbelanjaan computer di bilangan jalan Diponegoro, Denpasar, untuk beli DVD kosong krn stock DVD kosong saya sudah habis.
Ditengah perjalanan, sekitar jam 10 pagi, terasa cacing perut berontak dan rasa lapar menyerang krn belum sarapan dari pagi hari. “Kayak nya babi guling Handayani enak nih” begitu piker saya. Tapi perjalanan ke Babi Guling Handayani yg terletak di By pass Ngurah Rai, deket kawasan lampu merah Tohpati.. sendirian..? nggak asik ah.. dan tanpa piker panjang, saya angkat HP flexi saya dan dial no telp Made Tirtha, seorang teman penggemar babi guling sejati. Rumah nya kebetulan searah dengan arah perjalanan saya, yaitu di jalan Teuku Umar, Denpasar. Diseberang sana Made Tirtha menjawab ajakan saya lewat telepon.
Singkat cerita, saya jemput Made Tirtha, sekitar jam 10:30, lalu langsung berangkat menuju Warung babi guling Handayani, melalu Renon – Sanur – belok kiri ke by pass Ngurah Rai. Sesampai nya di lampu merah sejajar di kawasan ketewel, saya lihat lmapu sebelah kanan hijau dan lampu sebelah kiri kuning, jadi saya lewati saja. Sekitar 15 meter dari lampu lalu lintas itu, berdiri seorang polisi lalu lintas dengan Handy Talkie nya, terlihat dia sedang berkomunikasi dengan sesorang melalu HT nya. Sekitar 20 meter dari tempat polisi itu… berdiri beberapa orang polisi lengkap dengan kendaraan dinas polisi, dua sedan yg berwarna putih.
Lalu.. “PRITTTTTT!!!!” seorang polisi terlihat melambaikan tangan, meminta saya berhenti. Saya pun pasang reting, lalu berhenti di kiri jalan. Tanpa diminta, saya mengeluarkan STNK mobil dan SIM A, sementara itu Pak polisi mendekati saya.
Saya: “Selamat pagi Pak” (saya mendahului untuk menyapa, sambil menyerahkan STNK dan SIM A tanpa diminta)
Pak Polisi 1: “Selamat pagi… Tahu nggak… kalau lampu merah sebelah sana itu (lampu merah sejajar deket jalan menuju bypass ketewel), sering bikin orang salah lihat.. itu lampu merah nya ada dua.. sebelah kiri untuk jalur yg kiri, sebelah kanan untuk jalur yg kanan. Banyak org yg sering salah lihat di situ.
(dalam pikiran saya.. kalau tahu lampu merah nya membingungkan.. kenapa dibiarkan????)
Saya: “Tapi tadi waktu saya lewat, lampu nya masih kuning kok Pak”
Pak Polisi 1: “Tidak, anda telah melanggar lampu merah!” (Gimana sih Pak Polisi ini.. kok udah memutuskan bersalah.. sidang aja belum kaleeee!)
Lalu Pak Polisi itu melanjutkan
Pak Polisi 1: “Tolong anda keluar dulu dari mobil, trus kesitu.. kearah polisi itu” (kata Pak Polisi itu sambil menunjuk ke arah rekan nya).
Saya pun keluar dari mobil dan menuju ke arah Pak Polisi kedua sebagaimana ditunjuk tadi sama Pak Polisi pertama. Pak Polisi 1 lalu menyerahkan STNK dan SIM A saya ke Pak Polisi 2. Saat inilah dagelan itu berlanjut…
Pak Polisi 2: “Halo boss.. apa kabar” (Pak Polisi 2 berbicara kepada saya dengan gaya cengengesan.. Boss???? Sejak kapan saya jadi boss mereka :p)
Saya: “baik..”
Pak Polisi 2: “Mau kemana nih boss?”
Saya: “Mau ke tempat makan”
Pak Polisi 2: “Boss kerja di mana boss?”
Saya: “di Nusa Dua”
Pak Polisi 2: “menejer boss??”
Saya: “Nggak.. pegawai biasa”
Pak Polisi 2: “saya tilang ya boss..”
Saya: “ya.. tilang saja” (sahut saya santai tanpa expresi)
Lalu Pak Polisi 2 tsb mengeluarkan surat tilang.. satu persatu menuliskan sesuatu ke surat tilang itu.. lama banget.. nulis surat tilang aja lama banget.. lebih dari 5 menit.. sampai2 teman saya, Made Tirtha, yg sedari tadi ada di dalam mobil, turun, dan menghampiri kami.
Made Tirtha: “Udah Pak.. selesaikan disini saja Pak..”
Polisi pertama yg melihat situasi tersebut juga ikut menghampiri.
Pak Polisi 2: “lah gimana.. tadi Bapak ini minta ditilang” kata pak polisi kedua sambil menunjuk kea rah saya.
Lalu Pak Polisi pertama menimpali..
Pak Polisi 1: “kalau begini, biasanya lima puluh ribu”
Made Tirtha: “ah.. jangan mahal2 pak.. kangguang (cukup) 20rb ya..” (kata Made Tirtha sambil menggenggam 2 lembar uang 10rb-an)
Pak Polisi 1: “Nggak! 50rb!”
Made Tirtha: “ahh.. kangguang 20rb ya pak… sudah lah pak..”
Melihat situasi itu.. dan untuk menghindari situsai tarik ulur tawar menawar layak nya di Pasar Seni Sukawati, saya pun menengahi.
Saya: “Gini aja Pak.. Tilang saja saya Pak Polisi!”
Pak polisi kedua pun ikut menimpali…
Pak Polisi 2: “Tapi kalau ditilang.. anda harus ke pengadilan lho.. anda tetep harus datang pada saat sidang!”
Saya: “Nggak apa2 Pak.. tilang saja saya.. kalau saya musti datang ke pengadilan, saya akan datang. Dan Meskipun saya musti bayar pada saat sidang.. toh juga duit nya nanti untuk Negara.. ya kan Pak..?”
Pak Polisi 1: “Iya” (jawab nya dengan ketus)
Lalu tanpa saya sangka, Pak Polisi kedua ngambres (ngambek) seraya melemparkan pulpen nya ke kap mobil dan berkata ke rekannya, Pak Polisi pertama.
Pak Polisi 2: “Udah.. udah.. tilang gen be ye.. tilang gen be..! (tilang saja dia.. tilang saja!)” kata pak polisi itu seraya bersungut2 membalikkan badan dan ngeloyor meninggal kan kami bertiga “saya, Made Tirtha, dan Pak Polisi 1”
Melihat kejadian itu, saya dan Made Tirtha pun saling pandang.
Itu lah contoh sopan santun oknum seorang polisi akhir2 ini.
Saya pun akhir nya ditilang, tanggal sidang 21 May 2008, Pengadilan Negri, Jalan PB Sudirman, Denpasar. Saat tulisan ini saya posting, sidang tilang sudah saya lakukan, dan kena denda Rp 40rb.
Melalui postingan ini, saya himbau juga kepada rekan2.. Bahwa untuk memberantas korupsi, salah satu nya adalah dengan cara tidak memberikan peluang untuk terjadi nya korupsi itu sendiri. Kalau anda ditilang oleh Polisi lalu lintas, minta tilang saja.. jangan pernah negosiasi di tempat. Memang kita perlu datang ke Pengadilan untuk menyelesaikan sidang tilang tsb (sebenarnya sidang tilang itu bisa diwakilkan kok!). Tapi musti dimulai dari mana dong.. kalau nggak dimulai dari kita sendiri..
Suksma,
T.
6 Responses to “Tilang Saja Saya Pak Polisi!”
Leave a Reply


May 27th, 2008 at 12:32 am
haha..ini sama persis dengan pengalaman saya lho..pokoknya kalau ada yang beginian minta tilang saja. saya cuma kena 20rb an.
bisa dilihat di sini: http://okanegara.wordpress.com/2008/04/23/akhirnya-saya-jadi-terdakwa/
okanegaras last blog post..Terima Kasih Reviewnya; eBlogari
May 27th, 2008 at 1:04 am
@okanegara: hahaha.. dengan baca cerita Dokter Oka waktu dulu itulah, semakin menguatkan niat saya untuk gak mau negosiasi terhadap praktek2 korupsi di jalan raya. heuehuehue..
May 28th, 2008 at 2:35 am
Wah saya salut Bli..Biarin aja Polisi tadi ngambul..yang penting uangnya buat negara!!
Kok bisa lebih mahal Bli Tonny dendanya dari pada Dokter Okanegara??
Putu Adis last blog post..Workshop PARI Pusat Anyer
May 28th, 2008 at 4:47 am
@Putu Adi: Menurut Pak Hakim, karena saya melakukan tindakan berbahaya.. melanggar rambu lintas lintas, membahayakan diri-sendiri dan orang lain. gpp saya terima saja.. krn pada saat lampu kuning, seharus nya saya lebih aware.
May 28th, 2008 at 9:36 pm
Hihihihi.. jadi inget kejadian pas di pasar Gordon Buah Batu Bandung… =))
Sering “kompromi” sama Polisi yg sama.. sampe hafal banget sama wajahnya.. kah kah kah kah
Wahyu Blues last blog post..Yang ketiga dari http://www.iloveblue.com..
May 28th, 2008 at 10:04 pm
@WahyuBlue: kah kah kah… sajan puk.. inget ban ne ges di Bandung.. pipis di siu-an masih duge baan ne ngamah jak oknum.. jani suud be negosiasi di tempat.. men kene tilang.. tilang gen be… demen nepukin oknum ngambul ngentung pulpen.. jeg kedek ingkel2 baan ne. hahahaha =))